Rabu, 20 April 2011

Naskah Drama Tokoh 5 Orang

Naskah Drama Tokoh 5 Orang

Daftar Pemain.
1. Nimok : remaja putri umur 17 tahun,
cerdas, cantik dan lincah.
2. Momon : remaja putra umur sekitar 17 tahun
egois dan manja
3. Anu : suara - suara imaginer kedua tokoh berjumlah bebas.
4. Pasien : tokoh pengguna narkoba putra umur sekitar 17 tahun, kurus ceking dan lelah.

Dibantu pemain musik kalau perlu musik alternatif.
Synopsis :
Awalnya, Nimok menolong Momon yang menjadi korban pengguna narkoba hanya karena keduanya adalah sahabat. Momon berhasil lepas dari persoalan itu tetapi mencintai Nimok dan Nimok menolaknya.
Akibatnya, Momon makin parah terjerumus dalam persoalan itu kembali. Nimok kembali datang, tetapi tetap tidak ingin menerima cinta Momon.
Mengapa Nimok kembali datang ?

= = = = = = = = =


ADEGAN I.

PANGGUNG GELAP. PEMAIN MUSIK TELAH SIAP DITEMPATNYA.
DENGAN IRAMA YANG TETAP MULUTPUN IKUT BERMUSIK.
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK…
MAKIN RAMAI. SESEKALI NAIK SESEKALI TURUN, SESEKALI KERAS SESEKALI PELAN.
LAMPU MENYALA, TAMPAK DIPOJOK PANGGUNG SEBUAH KURUNGAN DILILIT KAIN PANJANG DAN DI ATASNYA ADA SEBUAH KEMARON KECIL BERISI BUBUKAN KANJI ( SAGU ) ATAU TEPUNG.
MUSIK BERBUNYI TERUS.
KEMUDIAN MUNCUL NIMOK DAN MOMON SAMBIL MEMBAWA DUA BUAH KURSI SEBAGAI HAND PROPERTY MEREKA DIIRINGI PEMAIN PEMBANTU ATAU SUARA SUARA YANG AKHIRNYA MEMBUAT KOMPOSISI. SUARA SUARA SENDIRI BEGITU JUGA DENGAN NIMOK DAN MOMON. KEDUANYA MEMAINKANNYA DENGAN GERAK GERAK INDAH BUKAN GERAKAN TARI.
MUSIK MENGIRINGI GERAK MEREKA. SETELAH ITU KEDUANYA DUDUK DI KURSI MEREKA MASING MASING, DENGAN KOMPOSISI SEIMBANG. KURSI KEMBALI SEBAGAI PROPERTY MEREKA.
SUARA MAKIN KERAS BEGITU JUGA MUSIKNYA.
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK…


Nimok dan Momon : suara suara berhentilah
Suara suara : Dhing dhang thak dhing dhang thak
Dhing dhang thak dhing dhang thak
Dhing dhang thak dhing dhang thak
Nimok dan Momon : suara suara berhentilah sebentar
Suara suara : Dhing dhang thak dhing dhang thak
Dhing dhang thak dhing dhang thak
Nimok dan Momon : Suara apakah kalian ini ?
Suara suara : Kami adalah suaramu sendiri
Yang terus hidup sepanjang hari
Kenapa Nimok ?
Kenapa Momon ?
Dhing dhang thak dhing dhang thak
Dhing dhang thak dhing dhang thak
Nimok dan Momon : Berhentilah suara suara
Berhentilah sebentar, kami ingin bicara sendiri.
Suara-suara : Sendirian ?
Nimok dan Momon : Nggak, kami berdua
Suara suara : tanpa kami ?
Nimok dan Momon : Ya
Suara-suara : Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab
Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab

KEMUDIAN SUARA SUARA ITU MEMBUAT KOMPOSISI BEGITU JUGA NIMOK DAN MOMON, MUSIK DAN SUARA MAKIN LAMA MAKIN LENYAP.
Nimok : Kenapa diam ?

MOMON DIAM TAK MENJAWAB.
Nimok : kenapa diam ?
Momon : nggak tahu
Nimok : nggak tahu ?
Momon : ya nggak tahu
Nimok : kenapa nggak tahu ?
Momon : karena nggak tahu
Nimok : kenapa nggak tahu ?
Momon : ya karena nggak tahu
Nimok : oh…..

KEDUANYA DIAM LAGI DENGAN MOTIVASI BERBEDA, SEMENTARA SUARA SUARA BERMAIN SALING BERDIALOG DALAM HATI. HANYA GERAK GERAKNYA SAJA YANG MEMAINKAN DILOG MEREKA. DAN SEGERA DIAM KETIKA MOMON MULAI DIALOG.

Momon : Kenapa diam?
Nimok : Apa?
Momon : Kenapa diam?
Nimok : Karena ingin diam
Momon : Kenapa ingin diam?
Nimok : Karena ya memang ingin diam
Momon : Tidak ingin bicara
Nimok : Ingin
Momon : Kapan
Nimok : Kapan kapan
Suara-suara : Kapan Nimok?
Nimok : Kapan-kapan
Suara-suara : Wuah nggak boleh begitu Nimok
Itu namanya mangkelan
Nggak boleh Nimok mangkelan
Jangan pendam dendammu sampai matahari tenggelam Nimok.
Nimok : Diamlah suara-suara
Suara-suara : Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab
Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab
Momon : Kau siapa ?
Nimok : Aku ?
Nimok !
Momon : Nimok temanku ?
Nimok : Bukan saja temanmu
Tetapi sahabatmu
Momon : sahabatku ?

Nimok : Ya sahabatmu
Suara-suara : Ya benar Momon
Nimok sahabatmu datang lagi
Nimok sahabatmu balik lagi
Momon : Kenapa kau datang lagi ?
Aku sudah tak ingin ketemu lagi
Kenapa kau masih datang lagi
Kenapa ?
Nimok : Karena aku sahabatmu Momon
Karena sahabatmu itulah aku mengharuskan datang kembali ke tempatmu.

KEDUANYA DIAM BERPIKIR.
Nimok : Karena aku sahabatmu, aku harus datang kembali.
Momon : Kenapa masih ingin datang kembali ?
Nimok : Aku ingin menjadi sahabatmu seperti waktu dulu. Tidak ingin menjadi seseorang yang kamu cintai.
Momon : Kenapa ?
Nimok : Tidak ingin
Suara-suara : Tidak ingin atau belum ingin
Nimok : Tidak ingin
Suara-suara : Tidak ingin atau belum ingin
Nimok : Tidak
Suara-suara : Tidak atau belum
Nimok : Tidak, sekali tidak ya tidak
Suara-suara : Belum atau belum
Nimok : Sssttt….
LANGSUNG SUARA SUARA DIAM.
Momon : Sebenarnya aku lebih senang kalau kau tidak mau datang lagi Nimok. Kenapa ?
Kau campakkan lagi aku dari sebuah tempat yang lebih tinggi setelah kau angkat dari tempat terbawah. Itu membuatku lebih sakit.
Sekarang, setelah aku sakit kau datang lagi untuk mengangkatku dan pasti akan menjatuhkan dari tempat yang lebih tinggi lagi.
Pergilah Nimok itu lebih baik.
Nimok : Tidak usah khawatir. Suatu saat aku pasti pergi. Tanpa kau suruh aku akan pergi. Tetapi untuk sekarang, aku masih ingin datang lagi untukmu
Momon : Kenapa Nimok ?
Nimok : Aku sahabatmu.
Sebagai seorang sahabat, aku ingin datang lagi untuk mengajakmu pergi meninggalkan tempat yang tak patut kau singgahi.
Mengerti maksudku Momon ?
MOMON DIAM, INNER MERENUNG UNTUK BERPIKIR.
Nimok : Tinggalkan semua ini. Aku ingin Momon kembali Momon yang dulu, semasa masih menjadi sahabatku.
Apa yang kau dapatkan dari tempat ini ?
Sia-sia Momon, dan…
Momon : Cukup Nimok, cukup
Nimok : Belum !
Belum cukup Momon.
Karena aku sahabatmu, aku wajib mengajakmu pergi dari sebuah tempat yang tak layak kau tempati. Hanya ini !

MOMON BERPIKIR KERAS KEDUANYA DIAM.
Nimok : Kau mencintai aku Momon ?

MOMON RAGU RAGU MENJAWABNYA.
Nimok : Jawablah dengan jujur Momon
Kau mencintai aku ?
Suara-suara : Jawablah Momon
Jawablah dengan jujur
Kenapa diam momon ? malu ya ?
Jatuh cinta kok malu
Malu kok jatuh cinta
Jangan jatuh cinta kalau masih punya malu
Nimok : Diamlah suara suara
Benar Momon kau mencintai aku ?
Momon : Ya.
Aku cinta kamu.
Nimok : Tidak tepat kalau kau mencintai aku
Momon : Kenapa ?
Nimok : Karena kau sendiri belum mencintai dirimu sendiri.
Momon : Aku mencintai diriku sendiri Nimok
Nimok : Tidak
Momon : Benar Nimok, aku mencintai diriku.
Nimok : Bohong kalau kau mencintai dirimu sendiri
Momon : Aku mencintai diriku Nimok
Nimok : Mengapa kau sakiti dirimu sendiri kalau kau sudah mencintai dirimu sendiri
Kenapa kau siksa dirimu sendiri kalau kau sudah bisa mencintai dirimu sendiri.
Bohong, aku tidak percaya.
Suara-suara : Mencintai tidak menyakiti Momon
Mencintai tidak menyiksa Momon
Ya kan ?
Nimok : Cintailah dirimu sendiri, sebelum ingin orang lain mencintaimu
Sayangilah dirimu sendiri sebelum ingin orang lain menyayangimu

MOMON BERPIKIR KERAS, MERENUNG.
Nimok : Apakah salah kalau sebagai seorang sahabat aku ingin datang lagi untukmu ?
Jangan usir aku Momon
Suatu saat pasti aku pergi. Sementara ini aku masih ingin melihatmu sebagai sahabatku kembali seperti dulu lagi.
Ayo bangun dari mimpi mimpimu yang indah tetapi hanya kebusukan dan kesakitan yang kau dapatkan.
Tidak ada pilihan lain kecuali harus segera meninggalkan tempat ini, kalau kau benar benar mencintai dirimu sendiri.
Yakinlah suatu saat orang orang yang mencintai pasti datang. Ya kan ? percayalah !

LAMAT-LAMAT TERDENGAR SEBUAH TEMBANG. TEMBANG ITU MENGINGATKAN IBUNYA YANG TELAH ALMARHUM.

Rungokna kandaku ya ngger
Isih cilik tak kudang kudang
Dadia pengarepanku
Ing tembe kena tak sawang…..
Momon : Diam !
Diamlah suara-suara
Aku tak ingin mendengar suara itu
Ayo diamlah suara
Suara-suara : Kenapa Momon ?
Momon : Tak seorangpun yang mencintaiku
Tak seorangpun yang menyayangiku
Semua pergi
Semua menjauhiku
Nimok : Diamlah Momon
Aku ingin menemanimu
Momon : Kemudian meninggalkan lagi
Sebenarnya aku tak ingin lahir kalau akhirnya harus begini
Siapa yang menyuruhku lahir ini sebenarnya



Nimok : Jangan kau salahkan kelahiran Momon
Dan mengapa tidak mencoba menyalahkan diri sendiri ?
Siapapun tak berhak menolak atau memilih kelahirannya
Kita hanya berhak menolak jalan hidup kita sendiri. Ya kan ?
Kita sendirilah yang memiliki hidup kita karena kita sendiri yang berhak menentukan diri kita sendiri. Bukan orang lain.
Belum terlambat Momon
Hidup ini milikmu sendiri bukan milikku
atau milik orang lain. Ayolah Momon
Lihatlah sebelah sana
Langit dan matahari masih cemerlang
Jangan menuntut orang lain mencintaimu
Kalau kau sendiri belum menuntut dirimu sendiri untuk lebih mencintai diri sendiri
Ayolah Momon
Sekali lagi hanya kita sendirilah yang harus mempertanggung jawabkan hidup ini pada sang pembuat hidup ini.
Memalukan menyayanginya sendiri tak mampu, menyuruh orang lain menyayangi.
Bagaimana Momon ?
TERDENGAR LAMAT-LAMAT SUARA-SUARA ITU MENEMBANG LAGI.
Nimok : Dengar Momon suara ibumu
Dengar Momon doa ibumu

MENDENGAR SUARA ITU, TIBA-TIBA PANDANGAN MOMON NYALANG DAN DENGAN BERINGAS TIBA-TIBA IA BERDIRI. PANDANGANNYA MAKIN LIAR MELIHAT KE BEBERAPA ARAH KEMUDIAN BERJALAN DENGAN LANGKAH GAGAH DAN CEPAT MENGELILINGI PANGGUNG. SESEKALI BERHENTI MEMANDANG SEBUAH ARAH DENGAN LIAR. KEMUDIAN BERJALAN LAGI SEAKAN INGIN CEPAT SAMPAI DI SEBUAH TEMPAT DAN LANGSUNG MELAKUKAN SESUATU.
Suara-suara : Momon… mau kemana ?

TIDAK ADA JAWABAN MESKIPUN MOMON SEMPAT BERHENTI SEBENTAR KEMUDIAN BERJALAN LAGI SEPERTI SEMULA.
Suara-suara : Momon pulanglah
Ibumu sudah menunggu…

TIDAK ADA JAWABAN MESKIPUN MOMON SEMPAT BERHENTI SEBENTAR KEMUDIAN BERJALAN LAGI SEPERTI SEMULA LEBIH CEPAT, SEMENTARA NIMOK HANYA MELIHAT DENGAN KEMAMPUAN INNER ACTIONNYA.
Suara-suara : Momon kemana ?
Ajaklah Nimok serta, jangan dibiarkan di sini sendiri
Momon : Tidak
Aku akan belajar lebih mencintai diriku.

PANDANGAN MOMON MAKIN NYALANG SAAT MELIHAT SESUATU YANG ADA DI POJOK PANGGUNG. DIAM SEBENTAR ADA KEBENCIAN.
LANGKAHNYA CEPAT SETENGAH BERLARI. LANGSUNG DIAMBILLAH “KEMARON KECIL” DIPEGANG LANGSUNG DIBANTING BERANTAKAN, SEMENTARA SERBUKNYA BETERBANGAN MEMENUHI PANGGUNG. MUNDURLAH MOMON BEBERAPA LANGKAH MELIHAT DENGAN LIAR LANGSUNG KAIN PANJANG YANG MELILIT KURUNGAN DITARIK PAKSA DAN KURUNGAN ITUPUN DIBUKA DAN DILEMPARKAN SEKALIGUS. TAMPAK SEORANG REMAJA SEDANG MENIKMATI ROKOKNYA ( GANJA ) DALAM KURUNGAN DENGAN PANDANGAN KUYU.
MOMON MUNDUR SELANGKAH DEMI SELANGKAH DAN TERUS MELIHAT PASIEN DENGAN MOTIVASI TERKEJUT SEKALIGUS PENYESALAN.
DENGAN LANGKAH GAGAH MOMON MENDEKATI PASIEN DEKAT DEKAT DAN LANGSUNG DIPELUKNYA ERAT ERAT SETELAH ITU LANGSUNG DIGENDONG ( DIPANGGUL ) BERKELILING LAGI.
Suara-suara : Momon kemana ?
Ini Nimok, jangan ditinggalkan sendiri
Momon : Aku ingin mencintai diriku sendiri sebelum mencintai orang lain.

DIPANGGUL LAGI SANG PASIEN UNTUK KELILING PANGGUNG LAGI. NIMOK PELAN-PELAN TAPI PASTI MENDEKATINYA MUSIKPUN MULAI BERBUNYI
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
Suara-suara : Momon, Nimok masuklah
Angin malam berhembus kencang

PELAN PELAN KETIGA PEMAIN ITU MASUK. SUARA-SUARA BERGERAK MEMBUAT KOMPOSISI. MUSIK BERBUNYI TERUS. SESEKALI KERAS SESEKALI PELAN.
Suara-suara : Hidup ini milik kita sendiri
Bukan milik orang lain
Bukan milik anak anak kita dan
Bukan juga milik orang tua kita.

MUSIK BERBUNYI TERUS PELAN PELAN KEMUDIAN SESEKALI KERAS. SESEKALI CEPAT SESEKALI LAMBAT. IRAMA BERGANTIAN. SUARA-SUARA IKUT BERSUARA
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
MUSIK TERUS BERLANJUT, LAMPU MAKIN LAMA MAKIN REDUP KEMUDIAN PADAM.


S E L E S A I

Minggu, 17 April 2011

carpon ISUKAN LEBARAN

ISUKAN LEBARAN

Dulag nitir di masigit, ditakolan ku barudak ti asar mula Kiwari wanci sareupna, barudak beuki marotah, suka bungah galumbira nakol bedug ngawirahma parat nembus peuting. Allohu Akbar, Allohu Akbar Allohhuakbar, Laaillahailelelohhualloh hu Akbar allohuakbar walilahilham. Isukan lebaran.

Isukan lebaran? Arni nanya ka dirina, ret ka gigir anakna ngageubra. “Deudeuh Kani” gerentes hate Arni.Lalaunan sirah budak diusapan deudeuh naker, budak ngulisik, nyah beunta, “Geus uih acan bapa teh Ma?” Ditanya kitu ku budak teh Arni kalah olohok. Teu karasa aya nu haneut mapay pipina Ih kalah ka ceurik, pan geus jangji dina hate moal ceurik hareupeun budak. Buru-buru Arni nyusut cipanon, tuluy imut bari ngusapan sirah budak. ” Teu acan kasep, sok bobo deui we, urang pepende ku ema nya?” Budak unggeuk, bangun atoh. Haleuang Arni nembang , dipirig kacapi asih, ngawih na jemplingna peuting, mepende jimat awaking.

Anaking jungjunan kalbu

Didoakeun siang wengi

Hidep teh sing panjang yuswa

jeung masing luhur darajat

Masing jadi jalma soleh

Cageur bageur bener pinter

Mun hidep jaga geus jangkung

geuwat gera nyiar elmu

Keur obor engke di ahir

Tungtut elmu masing luhung

Ku indung dijurung-jurung

Budak lir kasirep ku sora indung, sare tibra bangun ayem. Ari Arni cunggelik nyorangan, dibaturan ku kabingung , inggis nyanghareupan beurang, inggis alah batan maut hinis. Kumaha nya pijawabeun mun Kani nanyakeun deui bapana. Ray, beungeut Farhan salakina nembongan, ngalangkang dina ingetan, teungteuingeun Kang Far, indit teh meni ampleng-amplengan, na teu inget kitu ka budak?

Geus opat taun Farhan salakina aya di nagara deungeun,indit jadi TKI waktu Kani umur 2 taun, ayeuna budak geus 6 taun, hayang nyaho rupa bapa tapi nu jadi salaki lir diteu reuy jurig teu beja teu carita, boro ampar ngirim duit. Arni sasat dicangcang teu diawur teh lain bobohongan. Eta oge lain teu hayang niat beberes ka lebe, ngan watir ku budak. Jeung teu hade we deuih awewe teu kuat nahan gogoda. Matak nyabar-nyabar maneh . Arni satia ngadagoan salakina. Da ceuk pikiranana, manehna ngarasa yakin Farhan teh aya keneh.

Ah, teu pira sabenerna mah anu ngajadikeun Arni ngahurun balung siga kieu teh. heueuh ceuk batur ketang teu pira teh da keur Arni mah beurat kacida. Tadi pabeubeurang basa Arni balik ti pagawean, Kani nyampeurkeun. Bangun lungse budak teh da keur diajar puasa. ” Ma, ari bapa nyaah teu ka ujang?” eta budak ujug-ujug pok we ngomong kitu ” Ih nya enya atuh bageur” ceuk Arni tiba engab ” Naha gening teu aya wae neang ujang? ” ” Apan keur barang siar keur sakola ujang engke ” ” Ah, taun mangkukna teu aya, taun kamari ge henteu kadieu, sabenerna ujang teh boga bapa teu Ma?” ” Nya enya atuh bageur, piraku euweuh bapa mah aya ujang anu sakieu kasepna”

” Ma ,ujang hayang jiga batur, dipangku ku bapa, jalan-jalan jeung bapa ah…mun enya ge bapa ujang aya, meureun ujang teh diogo, dipangmeulikeun momobilan jiga Cep Gani, tuluy disunatan nya Ma?”

Arni ngagebeg ngadenge omongan budak, euleuh gening budak teh geus hayang disunatan. ” Hayang disunatan ujang teh? Nya keun ke ku ema diobrolkeun ka aki” ” Embung, ujang mah embung disunatan ku aki, hayang ku bapa da Jang Dudi, Jang Olih, jeung Cep Gani oge disunatanana teh dianteur ku bapana, lain ku akina. Balikna meuli momobilan!” Hing budak teh ceurik.

” Heug atuh, hayang dianteur ku bapa oge, ke ari bapa ujang uih nya?” ” Lebaran pasti aya nya Ma? Isukan pan lebaran teh nya Ma?” ” Enya bageur, ke mun aya bapa, acuk saena anggo nya? ” Budak unggeuk bangun atoh kacida tereleng lumpat muru babaturanana. Bada asar, torojol deui budak teh nyampeurkeun. Harita Arni keur kaprak-keprek di dapur. Enya kangaranan rek lebaran, kudu we ngueh-ngueh bae mah, era bisi aya nu nganjang, piraku teu disuguhan. Eta ge sasat maksakeun da teu sabaraha atuh gajih buruh pabrik mah. Bane we hayang nyugemakeun nu jadi anak. Da bongan diculkeun ku bapana.

” Ma, mana gening bapa teh can kadieu wae?” Kani hariweusweus deui nanyakeun. ” Ke jigana mah, bada magrib” Arni padu engab. Magrib kaliwat, parat tepi ka isa, nu didagoan weleh teu embol-embol. Barina ge ketah, na ceuk saha Farhan rek datang? Eta mah ukur kahayang Arni we keur ngabeberah budak. Boa ingeteun boa henteu Farhan mah. Ah boa geus boga pamajikan deui meureun. Arni ngagebeg, reuwas ku bayanganana sorangan, mun enya teh…teungteuingeun Kang Farhan…….. ( To be continued ) Copy right by reni. ( Plagiator dilarang icikibung! )

Beuki peuting, sora dulag beuki ngageder, kani beuki ngageubra sarena, teu kaganggu ku sora dulag

Ngan Arni nu cunggelik sorangan teh, panon hese dipeureumkeunana. Pikiran ngacacang ka waktu opat
taun ka tukang, mangsa hirup babarengan ngambah sagara rumah tangga jeung farhan. Atuh amprokna Arni ka Farhan estu karep maranehna sorangan, euweuh nu ngareremokeun. Ngan nya kitu atuh sagala oge teu bisa jadi jaminan ayem tengtremna rumah tangga maranehna.

Sataun oleng panganten, nincak taun kadua, brol ngajuru ku Kani, teu ku hanteu atuh abongkena kahirupan lir ibarat jalan anu teu salawasna mulus. Der dodoja datang, Farhan kagoda ku Suti anak mang Juhaya. Suti kembang desa Haur Geulis nu kakoncara kurang hade laku lampahna.Ari Farhan bet toloheor, kabengbat ku Suti nu kawentar tukang ngaheroan salaki batur. Nya eta atuh abong jalama Farhan oge teu kuat nahan gogoda, hayoh nyieun masalah, nyaho pamajikan anyar ngajuru teh kalah
hayoh hahadean jeung Si Suti. Ari Si Suti mah da geus lain caturkeuneun.

Peurihna hate Arni harita geus lain caturkeuneun, asa dihianatan teh lain bobohongan, matak teu aneh,
piring, gelas,sendok ting kalayang kana tarang salakina da mun teu buru-buru istigfar mah, boa budak ge dicekek. Arni ceurik aprek-aprekan bari menta diserahkeun bakat ku teu suka salakina salingkuh, untung harita aya Wa Haji Danu, nya ku alpukahna Wa Haji, Arni bisa kapeper ambekna, teu jadi menta diserahkeunana. Ngan nya kitu ibarat gelas geus rengat, sanajan dikumaha wae oge angger we tapak rengatna natrat. Komo ninggang di Arni nu gurat batu mah, masalah eta teh hese pisan leungitna. Hese pisan bisa mopohokeun kalakuan salakina. Kajadian eta sok mindeng jadi bahan papaseaan. Farhan ge teu bisa kukumaha ngabandungan adat pamajikanana, rumasa manehna salah.

Kaparengkeun atuh Farhan teh keur nete semplek nincak semplak,dikaluarkeun ti pagawean, da eta cenah nu boga pabrik beakeun modal, antukna pausahaan kudu ditutup. Farhan ngaligeuh,kakeuheul Arni beuki kanceuh.

” Matak ge Kang, ari jadi lalaki ulah sok toloheor, matak mawa apes kana diri” ceuk Arni harita.
“Geus atuh ulah nyabit-nyabit carita anu geus lawas” Farhan nyureng asa teu ngeunah dikingkilikan wae ku pamajikan, eukeur mah eukeur manehna teh bingung ka mana kudu nyiar pagawean deui, der deuih nu jadi pamajikan negterewelang bae.
Lain nyabit-nyabit, abdi yakin urang ripuh kieu teh alatan kalakuan akang!” Arni keukeuh teu bisa balem.

” Arnisah! Cik atuh nurut ka salaki teh, ceuk aing cicing! cicing! Ulah nengterewelang wae lieur!” Farhan geus teu bisa nahan amarahna.

” Lieur dijeun ku sorangan, ari geus kieu anak urang rek diparaban naon?:
” Bere we huut” omong Farhan asal engab.

” Naon? Anak urang rek diparaban huut? Memangna anak urang teh hayam? Nurustunjung boga salaki teh, piraku anak pamajikan rek diparaban huut!” Arni beuki keuheul.

” Alusnya, ari harita mah ka si Suti sagala dibikeun, ka kongkorong, kongkorong digadekeun keur mahugi, ari ayeuna anak pamajikan rek diparaban huut! Teu sudi aing mah teu sudi!” Arni gegejret.

” Arnisah! Cik atuh carita sataun ka tukang mah ulah disabit-sabit wae! Na saha nu rek maraban ku huut? Nyaho akang teh keur lieur mikiran pagawean!” Farhan maksakeun rada leuleuy da ningali Arni geus siga maung rek neureuy kitu mah matak soak. Farhan ngahaja ngaakangkeun deui, sugan we Arni paler ambekna.

Ari Arni, teu nembalan ngan hing we ceurik bangun kanyenyerian. Kani anu harita keur anteng ulin, kagareuwahkeun ku sora ceurik indungna. Hing we budak oge milu ceurik. Ku Farhanburu-buru dipangku
dibangbrangkeun, kukurilingan tumpak sapedah butut paranti manehna indit gawe, da ngan eta-etana kabogana teh. Kungsi ketang ngalaman boga motor, ngan nya kitu, kulantaran kabengbat ku Nyi Suti
awewe pangeretan tea, manehna jadi burindil, matak pantes Arni rek ambek oge.

Ray poe, ray poe teh kahirupan karasana beuki seuseut, beuki peuheur keur Farhan mah. Kani anu ayeuna geus umur 2 taun, keur meujeuhne nalaktak jeung loba tatanya. Beuki loba pangabutuh keur tumuwuhna. Butuh gizi anu alus keur kamekaran otakna, kitu anu kabaca ku Arni jeung Farhan dina buku keur jaman maranehna sakola.

Enya da dihenteu-henteu oge Farhan jeung Arni teh kungsi ngalaman sakola sanajan ukur tepi ka smp, teu laluhur jiga batur tapi sasieureun sabeunyeureun mah, elmu ti guruna teh aya nu nerap, komo keur Arni mah da kaasup murid anu nyongcolang. Teu diteruskeun soteh bane wae teu kaduga ku modalna da gening sakola jaman kiwari mah teu bisa dibayar ku sampeu, tapi ku duit anu teu saeutik jumlahna. Matak pamohalan keur kolot Arni mah bisa nyakolakeun budak, sakitu oge Arni kaasup untung make disakolakeun tepi ka SMP sagala.

Nya bakat ku teu kuat kudu dahar sore henteu isuk, antukna dina hiji peuting Farhan waleh ka Arni rek indit jadi TKI. Sugan jeung sugan bisa ngarobah kahirupan.

” Kang , ari abdi kumaha atuh?” omong Arni harita.

” Nya, wayahna keur saheulaanan mah jauh ti akang, kade we mihape budak” omong salakina semu beurat kacida. Arni teu ngajawab, pipina juuh ku cimata. Da mun teu era ku kalalakian mah Farhan ge hayang milu ceurik tapi sakuat tanaga ditahan, inggis beuki nganyerikeun hate Arni.

Peuting eta peuting nu endah keur maranehna, peuting pamungkas keur sosonoan oleng panganten, sabab isukna Farhan rek indit. Kaasih, kapeurih, kasedih cacap jadi hiji dina peuting eta. Peting panungtung keur maranehna duaan.

Rebun-rebun Farhan indit, sanggeus wareg ngagalentoran budak nu keur tibra sare. Ari Arni nu keur nyadiakeun cai kopi diteuteup kalayan geugeut. Buukna anu galing muntang katingali kulimia keneh urut sosonoan tadi peuting, asa nambahan kageulisanana. Enya geulis Arni teh ceuk sasaha oge. Rancunit jeung ngembang cengek. Hanjakal teu kasipuh ku dunya barana. Boro kabedag dibajuan jiga batur teu kabeuli wedak-wedak acan.

Rumasa Farhan oge jadi salaki teh teu bisa nyenangkeun, kalah kungsi nganyenyeri,kuhayang nebus sagala dosana ku nyenangkeun hate Arni, matak rek indit jadi TKI oge. Farhan indit dijajap ku gupay asih, memeh indit embun-embunan Arni diseuseup geugeut naker, geus kitu mah leos we teu ngalieuk deui ka tukang, nepi ka ngaleungitna diteureuy pepedut subuh.

Allohuakbar Alloh Huakbarallohu akbar Lailahailallaaohualo huakbar Allohuakbar walillahilham. Sora takbir terus ngalanglaung, meulah simpena peuting. sorana ngageterkeun hate Arni. Hirup bagja teh keur Arni mah ukur impian, da gening nepi ka kiwari Farhan teh teu beja teu carita.

Di jero kareta Saemasul, hiji lalaki diuk sisi jandela. Panonna anteng neuteup ka luar. Kyong Bu geus kaliwat, teu lila reg kareta teh eureun di Chung Yang, jrut si lalaki turun, teu sirikna gura-giru lumpat ka luar peron muru taksi.

Supir taksi bangun surti, biur ngalumpatkeun mobilna ka kulonkeun muru bandara internasional Seaul. Sapaparat jalan hate si lalaki marojengja, teu genah cicing hayang gera tepi ka bandara.hayang gera biur ngapung ka jomantara. Duh ieu hate meni asa hayang gera gok panggih, kunaon atuh beungeut anak pamajikanana teh kokolebatan wae?

Pileuleuyan walungan Han, pileuleuyan kembang samon nu mayakpak laligar di Gyeongju, pileleuyan. Ti mimiti poe ieu kuring amit arek mulang enya bisi, bisi kuring tuluy mulang, mulang ka lembur karang pamidangan. Nya poe ieu urang pileuleuyan. Kitu ceuk dina jero hatena.

Si lalaki noroweco terus dina hatena, bari panon mah anteng meuteup jalan nu asa kacida panjangna. Padahal biasana mah teu kitu asa sabiasa we da unggal waktu oge kaliwatan. Na ari poe ieu bet beda tisasari. Enya sabenerna mah geus dua minggu manehna guling gasahan, teu genah sare teu genah cicing. Ingetan kumalayang ka nu di lembur. Breh beungeut pamajikanana jeung anakna piligenti nembongan. Jiga kumaha nya anakna ayeuna enya mun aya keneh dikieuna. Seredet hatena asa aya nu nurihan, peurih lir diturihan ku hinis, 4 taun lain waktu sakeudeung keur ngarobah sagalana, kaasup hirup manehna.

Opat taun manehna apruk-aprukan di lembur batur, estu loba pisan carita hirup nu kaalaman ku manehna. Asa ngalangkang dina ingetan, munggaran manehna indit ti lembur, niat jadi TKI. Aras-urus surat kolu ka kudu ngajual sapedah butut jeung tanah sacangkewok titinggal kolotna, eta ge teu bebeja ka pamajikanana mah, angkanan teh keun we geus hasil ge sabatae kagantian deui.

Tilu bulan aras-urus susuratanana oge, kitu we rerencepan. Matak kacipta keneh ngajenghokna pamajikanana waktu manehna waleh rek indit jadi TKI. Pamajikanana teu bisa kukumaha iwal ti pasrah da sanajan hatena teu mikeun ge, geus lain bolaykeuneun ari tinggal jung mah.

Si lalaki teh ngaranna Farhan. Manehna ngarenghap panjang dadana karasa eungap waktu manehna inget kumaha pait peuheurna hirup di nagara deungeun.Harita ge mun teu teu dipangaruhan ku Kandi mah sobat ulinna ti leuleutik anu mukim di Arab, sigana boro-boro hayang ka luar ti lembur. Enya harita teh Kandi balik heula ka lembur tuluy amprok jeung Farhan, nya waleh we Farhan teh ka kandi perkara bangbaluh hirupna. Ku Kandi dibere saran, milu we cenah jeung manehna ari hayang ngarobah kahirupan mah, malah urusan susuratan ge Kandi nu manguruskeun.

Mimiti pisan mah Farhan digawe di Arab saudi jadi tukang kebon di Juragan Al Fayed di Dubai. jalma beunghar pamajikanana ge opat. Ngan edas galakna moal aya. Meunang sataun dikontrakna teh tapi can ge sataun Farhan kamusibatan dituding ngajinahan pamajikan AlFayed anu kaopat. Teuing kumaha mimitina manehna bet dituduh kitu. Onggeng-onggengan susumpahan oge ku si arab teh teu dipercaya, antukna Farhan dijagragkeun ka pangadilan. Mun teu bisa mere bukti dina jero tilu bulan, Farhan bakal ditibanan hukum rajam tepi ka maot. Bari ngadagoan bukti, Farhan kudu cicing di jero bui.

Farhan ceurik di jero bui, dunya asa poek mongkleng teu kacipta ti anggalna make kudu ngajaran dibui sagala. Gening kitu hukum di Arab mah, beda pisan jeung hukum di Indonesia. rek menta tulung menta tulung ka saha da teu boga baraya.Kungsi eta oge Kandi neang, jangji rek nulungan kucara ngumaha ka kedutaan Indonesia.

Aya eta oge nu datang ti keduataan teh, cenah mah rek dibereskeun secara diplomatik jeung pamarentah Arab Saudi tapi bet pleng les teu embol-embol deui. Tungtungna Farhan ukur nunggu nasib nu rek tumiba ka dirina. Enya asa euweuh hargaan jadi bangsa Indonesia di nagara deungeun. teu jiga basa aya urang Inggris maehan urang Arab da meni tumplek atuh para pejabat kedutaan Ingris tarurun, tuluy menta ka pamarentah Arab Saudi supaya wargana di ekstradisi wae kanagarana. Jadi masalahna bisa disidangkeun make hukum di nagarana. Eh…da teu kungsi lila si urang Inggris teh dibebaskeun.

Ari Farhan, panon celong, awak kuru balas disiksa unggal poe nepi ka dina hiji poe mah manehna geus teu kuat nandanganana. Farhan ceurik tengah peuting, hate muntang ka nu kawasa. Pek teh teuing nyawa teu ngaboga-boga, mun enya takdir manehna kudu maot alatan difitnah batur, nya teu bisa majar kumaha meureun geus kitu kuduna takdir diri bagja awak. Ngan hiji nu dipenta ka nu Kawasa teh mihape anak jeung pamajikan di lembur anu geus ampir dua taun ditinggalkeun, teu beja teu carita. Geus kitu mah Farhan longsong nyanghareupan poe isuk.

Kersaning Gusti, tilu poe ti harita, torojol Kandi mawa beja pikabungaheun. farhan bakal bebas cenah sabab bukti geus aya. horeng anu ngajinahan pamajikan Al Fayed teh supirna sorangan jeung lain ngajinahan deuih da sarua purunna. Ayeuna si supir teh geus kacerek ku Kandi sabalad-balad malah make jeung disiksa sagala supaya ngaku. Ah Farhan teu hayang ngadenge dongengna, nu penting mah manehna hayang gera bebas.

Alhamdulillah dina sidang anu katilu manehna dibebaskeun, Farhan teu sirikna sujud syukur ka Nu Maha Agung. Kaluar ti pangadilan digondeng ku Kandi dibawa ka imah dunungan Kandi anu kabeneran bageur pisan. Matak watir awakbegung jeung barau da di penjara teh arang panggih jeung sabun. mandi ge kitu we dibanjur ku selang ti luar estu jiga ka anjing budug wae.

Barang tepi ka padumukan Kandi, anu pangheulana ditanyakeun teh beja ti lembur tapi Kandi kalah gideug, geus tujuh surat euweuh balesan. Farhan ukur ngaheruk.

” Geus Han, ulah dipikiran, mending oge pulihkeun heula awak, keun saheulaanan mah didieu heula,da dunungan oge ngidinan” omong Kandi waktu ningali Farhan ngahuleng wae.

“Nuhun, Kan, mun euweuh anjeun nasib kuring teuing kumaha. Ngan ieu hate inget wae ka lembur. Deudeuh Arni, Kani sigana maranehna arep-arepeun.” ceuk Farhan ngalimba.

“Sabar Han, da usaha mah kurang kumaha, unggal nu balik ti lembur ditanya, dipihapean surat tapi weleh teu aya beja deui. Atuh urusan kuring nulungan anjeun, omat ulah jadi pikiran, pan urang teh geus asa jeung dulur” omong Kandi bari sor mikeun sagelas susu coklat ka Farhan. Farhan imut bari neuteup ka Kandi ku teuteup pinuh tumarima ka Kandi nu sasatna geus nyalametkeun nyawana.

Tilu bulan Farhan cicing jeung Kandi, kitu we sagawe-gawe. Ayeuna awakna geus lingsig deui. Manehna geus niat mun awakna geus jag-jag rek balik ka lembur moal cicing di Arab. Enya da rek naon aya di nagara deungeun oge ari ukur rek ngadon sangsara mah. Enya da dua taun aya di nagara deungeun boro-boro meunang gajih nu puguh mah kalahka difitnah batur. Boga ketah gajih 8 bulan ti Si AlFayed teh tapi nya kitu tea beak dipake aras-urus waktu sidang, da bareuki duit geuning urang Arab teh.

Teu kuhanteu atuh, piduaminggueun rek balik jol teh aya beja, pajar Desa Haur Geulis beak beresih ku lini anu kacida rosana tangka imah-imah ge rata jeung taneuh. Loba penduduk nu tiwas kaasup anak pamajikan Farhan. Eta beja datangna ti Ceu Rumi nu digawe di Tuan Fadil, tilu blok ti tempatna Kandi. Ari Ceu Rumi teh boga kolot di Haur Geulis sarta apal pisan ka Arnisah. Atuh puguh Farhan ngajenghok, tuluy ngelepek kapaehan. Inget-inget waktu diceuceuhan tarangna ku Kandi di tengah imah, dunungan Kandi ge milu riweuh.

Ti harita Farhan siga nu jauh panineungan, pagaweanana huleng jentul. Dina hiji poe mah kabeneran aya kolegana dunungan Kandi nu kabeneran keur nganjang. Manehna teh ti Korea, butuh ku tukang elas, ku kabeneran bet amprok jeung Farhan,atuh barang ditawaran teh teu sirikna disantok. Teu kitu kumaha, apan jaman keur di lembur mah kana ngelas teh Farhan mah tukangna.

Farhan geus gilig rek indit ka Korea, milu jeung Tuan Yung Han. Enya balik ge rek naon ari ukur nambah kapeurih hate mah. Kitu deui cicing di Arab,teu bararetah teuing. Manehna sok kukurayeun wae mun inget kana pangalamanana di jero bui. Nya mending miceun maneh we ka Korea. Nya biur we dibawa ku Yung Han ka Korea. Nganjrek di kota Wuwon bawahan Pusan kuloneun Kota Seoul. Hiji daerah industri nu deukeut ka palabuhan.

Nya di dinya manehna ngamimitian hirup. Teu pira ukur jadi tukang elas di pausahaan Yung Han. Boga panghasilan lain lumayan keur ukuran manehna mah da kolu nyewa apartemen sagala.

Beuki lila beuki betah hirup di Korea teh, komo da ayeuna mah geus diangkat jadi mandor. Gawena hade atuh ku babaturan dipikaresep. Nu mikaresep beuki loba sanggeus nyaho Farhan lalagasan, malah ku pagawe awewe mah teu sirikna pada ngalendean, pada ngareletan.

Aya hiji nu kapicangcam, urang Korea ngaran Kim Yung Chun. Eta kataji soteh pedah Farhan sok maling teuteup ari panggih. Di sidik-sidik teh Kim asa sarimbag jeung Arni. Camperenik, rancunit jeung ngembang cengek. Bedana teh palebah buuk. Arni mah galing muntang ari Kim mah sailaharna buuk urang Korea we panjang, hideung jeung lempeng.

Eta ku batu turun keusik naek.Kim oge jiga nu neundeun hate ka Farhan. Linggekna, imutna, keletna estu katingali pisan mere hatena. Ah teu di mana teu di mendi awewe mah kitu adatna…. Ayeuna geus ampir sataun Farhan hahadean jeung Kim.

” Far, naha urang teh rek kikieuan wae?” ceuk Kim dina hiji poe waktu maranehna balik ti pagawean.
” Kieu kumaha? ‘ ceuk farhan api-api teu ngarti.

” kuring hayang jadi pamajikan anjeun! ‘ omong Kim togmol. Farhan tangka ngagebeg bakat ku reuwas. Teu sangka Kim bet ngomong kitu.

” Kuring embung pisah jeung anjeun, kuring embung kaleungitan anjeun!’ Kim nginghak dina dadana. Farhan ukur ngahuleng bari leungeun anteng ngusapan sirah Kim. Lalaunan Farhan ngomong, ” Kim, kuring oge nyaah ka anjeun, na saha nu rek ninggalkeun anjeun? Ngan perkara kudu kawin jeung anjeun eta can kapikiran sabab kuring boga kulawarga” ceuk farhan bari derekdek manehna nyaritakeun deui jalan hirupna ti mimiti indit ti lembur nepi ka harita, saeutik oge euweuh nu kaliwat ku manehna kabeh dicaritakeun ka Kim.

” Tah kitu Kim, sanajan ceuk beja, anak pamajikan kuring teh geus euweuh tapi ari can bukti mah hate teh teu bisa narima. Ku kituna kuring embung ngawin anjeun dina kaayaan hate anu can bangblas” omong farhan bari neuteup seukeut ka Kim. Diteuteup kitu ku farhan, Kim ukur ngahuleng. Enya manehna oge surti sabab lain sakali dua kali Farhan nyaritakeun pangalaman hirupna. Kim oge ngarti, ngarti pisan yen lalaki anu kacida dipicintana teh geus aya nu boga, sanajan ngan ukur carita.

” Kuring ngarti Far, teu kudu dicaritakeun deui, kuring geus apal saha diri anjeun tapi lain hartina hubungan urang euweuh kajelasan, sanajan kumaha bae oge tetep kuring menta kaputusan!”

” Enya kumaha atuh Kim? Cik kumaha ceuk anjeun? ” omong Farhan semu bingung.

” Kieu we atuh Far, kumaha mun Farhan mulang heula ka Indonesia? ”

” Ka Indonesia rek naon? Rek nurihan hate sorangan?”

” Ih lain, keur ngabuktikeun aya keneh henteuna anak pamajikan , ulah ukur beja ti batur!”

” Mun bener sakumaha ceuk beja?”

” NYa buru-buru Far balik deui ka Korea. Sakalian we aras-urus jadi warga nagara Korea” omong Kim tendes. ” Tapi lamun anak pamajikan Far aya keneh,……” Kim teu kebat nyaritana, ngan segruk wae ceurik tuluy nyuuh kana lahunan Farhan. Ku Farhan diusapan buukna deudeuh naker bari hatena sabil antara nurut kana omongan Kim jeung henteu.

Dipikir dibulak-balik, tungtungna manehna sadar yen omongan Kim aya benerna. Ku kitu ku kieu manehna kudu kuat narima kanyataan. Naha salila ieu manehna bet leutik burih kawas lain lalaki, sieun itu sieun ieu. Kuduna manehna kuat narima sagala nu rek tumiba ka dirina.

Nya kaputusan eta anu ngalantarankeun manehna ayeuna aya di jero kapal Korea Air Lines nu keur ngapung di jomantara. Ngapak mega ngalayang di awang-awang. Geus talatah ka Kim, ku kitu ku kieu pasti manehna bakal mere beja ngan poma kudu ngahampura bisi manehna teu bisa balik deui ka Korea. Harita Kim ukur juuh cimata. Dirina beurat kacida ngaleupaskeun beubeulahan hatena.

” Attention…attention, air plane will take of, the passanger are ready to take of. The packages dont leave. thanks you” ceuk sora halimpu tina media player. Ngadadak awak Farhan asa paranas tiris. Teuing kunaon, hete ge bet ting seredet.

Hatena ngageter waktu mungggaran sukuna nincak deui lemah cai anu geus opat taun ditinggalkeun. Ka luar ti bandara manehna rikat neangan taksi. Kalacat naek tuluy diuk bangun tumaninah. Jandela taksi ngahaja ku manehna dibuka. Manehna jiga nu hayang seubeuh nyeuseup hawa lemah caina. Mobil terus maju bangun surti kana hatena nu hayang buru-buru tepi ka lemburna di Haur Geulis.

Wanci geus ngagayuh ka peuting. Hawar-hawar kadenge sora takbir ti masjid nu kaliwatan. Farhan asa kaingetan yen isukan lebaran. Lebaran? Leuh geus opat taun manehna teu ngalaman lebaran. Nepi ka teu eungeuh isukan lebaran. Paingan atuh meni rame sora takbir. Luk manehna tungkul tuluy biwirna kunyem milu takbir. Aya nu ngalembereh mapay pipina, asa ribed ku dosa awak teh. hatena ngajerit menta hampura ka nu ngayuga.

” Isukan lebaran? Arnisah, Kani naha anjeun araya keneh? Duh Gusti, mun maranehna araya keneh, pendakeun abdi jeung maranehna. Mun geus teu aya, atuh pangnuduhkeun kuburanana” kitu ceuk hatena nu keur muntang ka Nu Kawasa. Ari mobil angger nyemprung na jemplingna peuting, nyuaykeun kasimpe hate awor jeung kasono, kadeudeuh ngajadi hiji. meni asa hayang gok panggih.

carpon Kawung Ratu

Kawung Ratu

DI SADESA Mandalasari jigana mah ngan kawung Aki nu pangjugrahna teh. Lain si sombong, sanajan dibandingkeun jeung kawung bogana Ki Jumsi ge. Ari kawung Ki Jumsi, enya jugrah, tapi lahangna kos nu atah raru, sok haseum bae.

Mokaha da, dina usum kieu, ari kana saratus perak mah sapoena eta kawung teh bisa mere, teu hese-hese. Lakar daek bae ngaropeana.

Ku Aki eta kawung dibere ngaran peringetan ka Kangjeng Dalem Wira Tanu Ningrat. Minangka pangeling-eling ka anjeunna, disebut wae Kawung Ratu.

Riwayatna mah kieu eta teh: Baheula, waktu Aki ge ngora keneh, can jaman merdeka harita teh, eta kawung jeunah keneh, can diropea. Ari carulukna mah geus aya, ngan leungeunna can nongtot.

Harita Aki boga deui kawung tilu, nu jadi di sisi walungan Cilonggan. Nu eta mah geus lila bisa disadapna, ngan teu pati matut.

Saban Aki rek nagenkeun lodong kana kawung nu tilu tea, Aki nga-randeg heula di handapeun tangkal kawung jeunah. Da enya, estu jadi angen-angen pisan, sangkan eta kawung bisa mere pakasaban anu lumayan. Ku Aki sok diajak nyarita kieu: “He Nyi Mas Pohaci Jubleg Ireng, parawan Mandalasari nu ngadeg di sisi jalan liliwatan, geura pintonkeun panangan salira, mancer geutah madu tina rema salira ….

Teuing kalah ku mindeng, teuing memang geus waktuna, leungeun eta kawung teh teu lila nongtot. Ari geus nongtot bet jadi bingung Aki teh, sok sieun sal ah nyigayanana. Da eta kawung teh pelak Aki jaman budak. Poho deui karuh, nyanghareup ka mana waktu Aki melak eta kawung, asa ngaler asa ngidul. Apan sok pundung mun salah nyigayanana mah. Jadi nyigayanana kudu lebah tempat melakna. Upama teu kitu, hamo. Lain omong bebenjon ieu teh, enya, sidik, nurutkeun pangalaman Aki kitu, sotenan.

Ku lantaran poho terus, nya Aki teh tahajud heula, hayang dibere ngimpi ku Pangeran. Hayang kaimpikeun deui teh kalakuan jaman Aki melak kawung eta. Kaliasan bet kaparengkeun. Aki ngimpi. Jeung Aki percaya pisan kana eta impian teh. Dina itungan, Aki melak kawung nyanghareup ka beulah kaler. Jadi nyigayan kawungna oge kudu ti beulah kaler. Aya deui nu jadi pikiran harita teh. Naha ditinggurna kudu keur gumear atawa gumucrak-koneng. Apan beda-beda sipatna kawung teh. aya nu kudu ditinggur waktu kembangna gumucrak-cibeas, gumu_crak-koneng, tumereb, gumear, humeor, lumecir, humangit, malah aya nu kudu geus beukah. Tah eta Aki can nyaho. Tapi nya tungtungna mah dipaparah bae. Waktu keur gumucrak-koneng, mimiti ditinggur.

Ku lantaran marawanan, basa ceg kana leungeunna Aki ngomong kieu: “Nyi Parawan Mandalasari, montong getek montong ngepeskeun, poe ieu teh poe pangantenan urang, perlu cisusu jangeun turunan …”

Ninggurna ati-ati pisan, bakuna mah sieun katinggur heunteu careuhna. Kumaha keh mun -kitu, kana pundung deui bae. Taktage kawung mah kos jelema - eh kos parawan meureun - kudu asak ngolona.

Sanggeus ditinggurna lita, heg diayun. Jeung sanggeus katimbang waktuna, si kembang teh tuluy wae dipagas, dipopok ku legoh tangkalak sabiasa.

Nyeta atuh, ari mimitina mah eta kawung teh bet matak rudet bae. Keur lahangna saeutik teh, haseum beak karep. Ku taksiran Aki, eta kawung keur gering. Eta we da kalah ka gegedoh nu ka luar teh, rujit.

Jeung eta harita, neangan kacembeng, kuat kukulintiran ka ditu ka dieu, weleh teu manggih. Nya kapaksa wae ku daun kanyere. Eta leungeun kawung nu geus dipagas teh, heg disusut ku daun kanyere, ava ulah loba teuing gegedohna. Minangka obat doktorna meureun mun ayeuna mah.

Jaba ti eta, lahangna diraru. Sok akar kawao diasupkeun kana lodongna sanggeus dipuput teh. Gen ditagenkeun dina leungeun kawung. Enya rada saleuheung lahangna teu haseum teuing.

Beuki lila eta kawung teh beuki pikalucueun. Lahangna teu haseum sarta beuki jugrah bae. Sapoe-sapeuting dua lodong teh aya kana dua bonjoreun mah, nitih salodong sabonjor. Mucekil pisan sakitu teh.

TAH harita aya pemundut ti Ratu di nagara teh. Punduh Cakra dina hiji poe datang ka Aki. Cenah, Kangjeng Dalem Wira Tanu Ningrat mundut dipangdamelkeun gula ka unggal somahan ti wewengkon Ta-raju jeung Salawu nu sok nyadap. Di desa Mandalasari nu kapeto teh nya Aki pisan. Tangtu Juragan Kuwu nu nuduhkeunana teh, da piraku Kangjeng Dalem uningaeun onamaning.

Beu ambeu, Aki teh dipundutan ku Ratu geuning, kudu nyieun gula sireum jeung gula kerenceng. Pagawean nu bangga eta teh. Tapi sakumaha banggana oge, da dawuh Ratu, piraku bet dipagak, tangtu diestokeun pisan. Apan cenah “guru-ratu wong atua karo, wajib sinembah.”

Tegesna Ratu nu faoga nagara katut uteuk-tongo-walang-tagana, piraanan mundut gula sireum jeung gula kerenceng,cek Aki teh. Malah bungah nu aya, dumeh kapercaya ku menak ti dayeuh.

Eh poho, eta, nu dipundutan gula di desa Mandalasari teh lain Aki wungkul. Duaanjeung Ki Tasrip nu boga kebon kawung pohara legana. Kawung nu jadi kaagulanana, ku manehna dingaranan Kawung Juuh, eta meureun pedah lahangna juuh pisan, jugrah.

Jigana rek dipriskeun Aki jeung Tasrip teh, mana nu leuwih bisa nyadap jeung nu bisa nyieun gula. Atuh tangtu wae Aki enya-enya mah, sieun eleh, sieun isin ku Ratu.

Kabeneran kawung nu tadi teh keur purug, leungeunna kuat satilu-tilu. Disadap kabehanana. Atuh Aki teh aya harepan, lantaran lahangna geus beunang dipercaya tea. Jadi baris meunang lahang nu hade tur loba. Cek angkanan harita, upama Aki meunang pris ti Ratu, Kangjeng Dalem, eta kawung teh rek dingaranan Kawung Ratu.

Dina enggoning nyadapna harita, estu sagala elmu Aki pamere ti nini-aki diketrukkeun kabeh. Boh jangjawokan boh kias-tarekahna sangkan meunang lahang loba tur alus, kabeh dijalankeun. Ieu teh awahing hayang kaanggo ku Ratu bae.

Waktu lahang nu ditaheur keur nyengka, pok Aki ngaharewoskeun jangjawokan. Kitu deui waktu geus rumamat.Tuluy dijait. Ti dinya terus diguis. Terus diguis henteu dicitak, lantaran apan rek nyieun gula ke-renceng jeung gula sireum tea.

Sajeroning ngaguis, Aki teu poho mapatkeun jangjawokan karuhun, menta sangkan gulana kamanah ku Ratu, sing bodas-ngeplak gula sireumna, sing ulah tutung-atahan gula kerencengna.

Taksiran paneda Aki teh diijabah. Eta bae hasilna cek Aki mah estu nyugemakeun pisan. Tuluy ditorosan dihade-hade, sangkan engke di mana aya nu ti desa, kari sok.

Waktu Ki Punduh Cakra datang rek nyokot gula haturan Kangjeng tea, bari ngasongkeun teh teu poho Aki mapatkeun jangjawokan minangka pangjajapna, ambeh gulana dipiasih ku Ratu, kamanah ku menak.

Lila Aki ngadagoan beja ti dayeuh. Aya kana dua Jumaahna, sarta dina hiji poe, Punduh Cakra datang deui.

Pokna: “Ki Sukarma, gula kerenceng jeung gula sireum teh geus katampi ku Kangjeng Dalem. Jigana mah kapuji ku anjeunna. leu kuring masrahkeun suratna …”

Bari ngadegdeg Aki nampanan eta surat. Aksarana aksara Sunda. Heg ku Aki dibaca. Mun teu salah kieu unina teh:

“Ki Sukarma di Babakan Kiara, desa Mandalasari. ieu kula Dalem Tasikmalaya, Wira Tanu Ningrat, mere beja yen gula ti anjeun geus katampa sarta kapuji hadena.

Dina ieu surat kaula mere duit, lumayan pikeun dipake jimat ….”

Kitu asana eta eusi surat teh. Enya eta surat teh dibarengan ku duit sabenggol. Bener sabenggol, teu kurang teu leuwih.

Upama diitung ku harga gula mah, duit sabenggol teh, wah teu kabual. Rugi malah. Tapi ngingetkeun, yen eta duit teh - sanajan ngan pangaji sabenggol - citresna ti nu jadi Ratu, bungah nu aya. Sarta sakumaha dawuhanana yen eta duit kudu dijieun jimat, ku Aki teu digasab, diteundeun didama-dama pisan.

Ti harita kawung nu tadi teh dibere ngaran Kawung Ratu. Kabeh urang desa Mandalasari, nepi ka desa Puspahiang oge geus nyarahoeun, yen Aki meunang pris. Pris kahiji malah di sa-Salawu oge.

Dina hiji peuting bet eta kawung teh kaimpikeun. Dina itungan nu kadeuleu harita, eta kawung teh bet leungeunan sarta sirahna saperti awewe, pohara geulisna. Kitu lah jiga burok, ngan awakna lain kuda, tapi kawung. Ngong eta burok kawung teh ngawih anu maksudna menta ka Aki persenan ti Ratu.

Anggeus ngawih, ana korejat Aki hudang. Bet make muringkak bulu punduk. Inget harita malem Jumaah kira wanci janari leutik.

Kaganggu ku mikiran impian, Aki teu sare deui. Nyileuk bae. Ceuk hate: Enya Nyi Mas Pohaci Jubleg Ireng teh mundut persenan ti Ratu geuning. Jeung ahirna, sanggeus dipikir dibulak-balik, gilig we hate teh, yen duit sabenggol nu ti Ratu tea, rek dibikeun ka Kawung Ratu. Da enya mana kitu oge, hakna.

KACARITAKEUN isukna, rebun-rebun keneh, Aki geus indit bari mawa duit benggol, rek ngajalankeun niat tea. Tah harita meunang kareuwas nu pohara teh. Ti kajauhan geus katembong, yen di handapeun Kawung Ratu aya 12jelema. Ana dilelek-leiek, geuning eta jelema teh nu rek deleka, da keur ngagedek bae nuar Kawung Ratu. Nataku Aki sewot na, serepet nyabut bedog panjang bari ngagorowok:

“Sia rek nuar kawung aing, hah? Hayang dicacag?”

Jelema nu aya di handapeun kawung gancang ngalieuk. Masya Allah geuning manehna teh Ki Tasrip tea. Enya Ki Tasrip nu eleh pris tea. Tah barang manehna neuleu beungeut Aki, gancang manehna mabur, lumpat tipaparetot. Ku Aki meunang sawatara pentangan mah diudag, tapi teu kebat, da cek ingetan karo-karo burung. Tuluy we balik deui kana kawung.

Diilikan tapak kampak dina tangkal Kawung Ratu teh, hadena can pati jero. Leuh diwaaskeun upama Aki teu gancang-gancang ka dinya, kana lapur tah kawung teh. Mangkaning kawung geus ngaronjatkeun darajat Aki di desa, malah julukan Kawung Ratu oge geus kawangikeun, Piraku we mun teu meritegeg upama aya nu nuar teh.

Kaharti ku Aki, Ki Tasrip teh sirik, pedah kawungna teu meunang pris. Kawung Juuh-na eleh ku Kawung Ratu. Art kituna mah, nya sarua wae meureun jeung Aki, manehna oge hayangeun kamanah ku menak, hayang kaanggo. Tapi nasib hade aya di Aki. Banget-banget Aki nganu-hunkeun ka Pangeran jeung ka para karuhun nu ngawaris jangjawokan jeung elmuning kias tarekah tea.

Estu jadi udagan Aki, iadi udagan sarerea, hayang jadi somahan anu hade teh. Da ngarumasaieun hirup digeugeuh ku menak. Maksud Aki teh di dunya. Jadi fay a barang kinasihan, upama dipundut atawa dipika-palay ku nu ngaheuyeuk nagara mah, tangtu disanggakeun kalawan kabungahan.

Katurug-turug Aki percaya pisan, yen dawuh Ratu mah sok saciduh metu, sabda menak sok saucap nyata tea. Aki yakin, ku kaanggona gula kerenceng jeung gula sireum tina Kawung Ratu, bakal aya karasana kana kahirupan Aki. Buktina eta Kawung Ratu teh beuki jugrah bae lahangna.

Tah nya; kacaritakeun duit benggol nu ti Kangjeng Dalem ku Aki di-asupkeun kana hate Kawung Ratu. Mimitina mah rek di beh handap bae, kabeneran aya urut kampak tea. Ngan dipikir, bisi aya nu manggih-an. Ku lantaran kitu terekel naek kana sigay; kira sadeupa deui ti pucuk, heg molongoan tangkalna, bes benggol teh diasupkeun ban ngomong:

“leu Nyi Mas Pohaci Jubleg Ireng, kuring nyanggakeun kagungan, mugi ditampi ..,.”

Ti harita Kawung Ratu teh dieusi benggol jimat. Aneh karasana ku Aki asa aya komaraan sanggeus kitu teh. Euh tangtu perbawa jimat ti Ratu, cekhate.

Isukna Aki meunang beja pikareuwaseun. Majah Ki Tasrip geus maot ngagantung maneh dina tangkal Kawung Juuh. Inna lillahi, cek hate. Manehna .maot lantaran eleh pris meureun. Eleh berjuang cek basa ayeuna mah, berjuang sangkan kaasih ku Ratu. Teu ngabibisani, cacak mun Aki eleh oge, kana kawas manehna. Ngan teuihg ketang ari kudu ngagantung maneh mah. Nu tangtu, boga perasaan teu bisa jadi somah-an nu hade mah, pasti aya.

UJANG, NYAI, geuning maraneh teh ngabandungan omongan Aki bangun pogot kitu? Naha rame pangalaman Aki teh? Asa teu pira pila-kadar ngadongengkeun kawung! Panjang sotenan dipanjangkeun ku Aki, itung-itung Aki mulangkeun deui panineungan ka mangsa baheula. Da ari lalakonna mah pondok pisan.

Jigana, tangtu Ujang-Nyai oge boga kahayang cara Aki. Hayang jadi somahan - rayat meureun cek basa ayeuna mah - nu hade. Enya? Pi-raku bae mun henteu teh. Ari lantaranana apan urang hirup teh estu ka-purba ku menak. Cek ayeuna mah meureun ku Bapa-bapa Pamingpin. Tina hal ieu, Aki yakin pisan, yen tangtu sarua, mo beda. Upama geus beda, nya bengkok sembah tangtu bakal aya mamala. Nagara bakal kacrut werit jeung ilang dangiang, lantaran somahanana geus malung-kir ka nu jadi ratuna. Naudubillahi mindalik!

Ku lantaran kitu, waktu dina hiji poe Aki kadatangan jurungan ti kacamatan, yen Juragan, eh Bapa Camat, mundut gula galeuheun, ku Aki teh estu disanggupan pisan. Ras inget ka jaman baheula. leuh, Aki mah teu ngawiji-wiji ka nu jadi menak teh. Teu pedah jaman baheu_la teu sarua jeung jaman ayeuna. Sarua bae. Menak mah menak bae, sanajan ayeuna geus ganti ngaran oge, da hakekatna mah moal beda.

Kira dua minggu ka tukang, waktu Aki neang leungeun Kawung Ratu, manggih pangalaman nu matak ngajenghok. Nya eta deukeut tangkal kawung geus aya calecer. Beu, cek hate, .tangtu ieu teh calecer ti Desa nu rek ngalegaan jalan. Ari disidik-sidik, sihoreng calecer teh ayana beh ditueun kawung. Harita Aki ngaheruk lila pisan, ret kana

Kawung Ratu, ret kana calecer.

“Emh, deudeuh teuing Kawung Ratu, meureun maneh teh bakal di-tuar dajalan rek digedean,” cek hate. Nya eta atuh, ku hanjakal Kawung Ratu teh jadina meh dina kuta pisan, jadi kasipat ku calecer tea.

Pohara Aki sabilna. Ras inget kana pamundut ti Juragan Camat. Ras inget deui kana parentah ti desa. Mangkaning kawung Aki teh ngan tinggal Kawung Ratu wungkul. Jadi pikeun nedunan pamundut ti Kaca-matan, Aki satadina mah ngandelkeun ti Kawung Ratu. Tapi harita rek dituar, titahan ti desa.

Art nu matak sabil, ka ditu kumaha ka dieu kumaha. Apan Desa jeung Kacamatan teh sarua bae kudu diturut parentahna. Boh Juragan Kuwu, boh Juragan Camat, sarua menak nu wajib sinembah tea.

Aya nu matak ngarugikeun Aki teh. Nya eta tipama parentah ti Desa diturut. Atuh meureun mun dituar, kana leungit pakasaban Aki nu baku. Tapi kumaha da eta parentah nu kudu diturut.

Upama teu diturut, beu aya kudua atuh Aki teh nyontoan ka nu ngaro-ra. Apan tadi ku Aki geus dicaritakeun, yen upama kitu, bengkok sem-bah tea. Eta Aki teu niat, bararaid teuing!

Tapi Aki perlu ku eta kawung. Kahiji keur pakasaban Aki, kadua keur nedunan pamundut ti Kacamatan tea. Keun ari pakasaban Aki mah, teu penting, tapi eta pamundut ti Kacamatan.

leuh Ujang-Nyai, karasa bohongna omongan Aki nu pangahirna bieu? Majar keun ari pakasaban Aki …. Ah, nyeta atuh Ujang, Nyai, sabener na Aki butuh pisan ku eta kawung teh. Eta teh hirup Aki, Ujang, Nyai. Upama euweuh eta kawung meureun Aki beuki kokoro.

Jadi sarua pentingna, boh pikeun nedunan pamundut ti Kacamatan, boh pikeun kahirupan Aki sorangan.

Beuki dieu pamundut ti Kacamatan beuki mereg bareng jeung paren_tah ti Desa sangkan Kawung Ratu gancang dituar. Duanana parentah ti menak, duanana kudu diturut.

Ari peuting tadi bet eta Kawung Ratu teh kaimpikeun deui. Da enya atuh, nepi ka Aki mah boga anggapan, yen eta kawung teh lain saka-wung-kawungna, estu titisan Nyimas Jubleg Ireng nu asalna tina daging jeung getih Dewi Sri urang kayangan. Ku lantaran kitu pangrumat Aki terhadep eta kawung, pohara enya-enyana, dipusti-pusti pisan cara ka jelemabae.

Enya, eta kawung teh peuting tadi kaimpikeun deui. Dina itungan, manehna nembongan ngarupakeun hiji putri nu make pakean sing sar-wa bodas. Heg ngagupayan ka Aki. Ari disampeurkeun, bet kadenge manehna ngawih, pokna:

“Pileuleuyan, pileuleuyan,

kuring digupay ku langit,

pileuleuyan, pileuleuyan,

kuring ditundung ku bumi.”

Jigana mah geus terus rasa ka manehna, yen moal lila deui manehna rek dituar mana kaimpikeun kitu oge. Geus boga wirasat, yen lalakonna tereh tamat.

Impian peuting kamari meureun minangka iber pileuleuyanana.

Aki jeung manehna tereh papisah. Beurat puguh ge. Ngingetkeun geus kalilaan babarengan, sakaduka-sakasuka, asa jeung dulur pet ku hinis bae.

Ayeuna Aki pohara baluwengna, sabil nu taya papadana. Ras inget Kawung Ratu daek teu daek kudu dituar. Leuh, mun dituar teh meureun sarua jeung maehanjelema, cek Aki mah. Dosa jeung teu kaduga.

Coba kumaha timbangan Ujang jeung Nyai, lamun maraneh nyangha-reiipan perkara kieu? Inget kana papatah “guru, ratu wong ‘atua karo wajib sinembah,” inget kana pangabutuh sorangan jeung inget yen nu kudu dituar teh Kawung Ratu pisan nu ku Aki dianggap jelema nu boga nyawa.

Ayeuna lalay geus mimiti ka luar. Geus meh sareupna. Nyanghareup-an peuting, engke, pohara wegahna, lantaran isuk kudu aya putusan. Isuk gagasan leungeun kawung geus waktuna dibuka, lahangna geus kerep nyakclakanana. Pamundut ti Kacamatan bisa ditedunan upama Kawung Ratu teu kudu dituar.

Rek kumaha ieu leungeun Aki isukan? Naha ngecekkeun kampak kana tangkalna nepi ka kawung jadi pogor atawa nagenkeun lodong kana leungeun kawung …. Eta can kapikir ku Aki, tapi kuma isuk bae. Engke peuting Aki rek mikir.

KITU kira-kira obrolan Aki Sukarma ka kuring kamari teh. Nyaritana estu binarung rasa jeung dareuda hate. Persualan nu disanghareupana-na pohara beuratna. Kuring ge teu bisa mutuskeun kudu kumaha ma_nehna teh, naha kudu nyadap atawa kudu nuar kawung.

Tapi poe ieu pisan, tadi isuk-isuk, manehna geus mutuskeun sorang_an. Manehna geus ngajawab persoalanana pribadi. Jigana mah meu-nang mikir sapeupeuting. Yen kudu kitu.

Tadi isuk-isuk, kuring bareng jeung urang kampung Babakan Kiara ngahaja nepungan manehna ka Kawung Ratu.

Barang datang ka handapeun kawung, meh kabeh taya nu kuat tanggah. Kabeh ngaheruk.

Ret kuring kana tangkal kawung. Aya tapak ngadek, tapi can patijero. Kampakna ngagoler dina taneuh, teu jauh tina puhu sigay. Sanggeus kitu lalaunan panenjo kuring mapay sigay ka luhur suku Aki Sukarma geus ngagulayun.

Cek hate: Poe ieu geus leungit hiji tukang nyadap kahot nu geus ka koncaradi desa Mandalasari anu ngaran Aki Sukarma.

Jeroning kitu kuring asa ngadenge nu ngawih ti lebah tangkal ka_wung. Sorana gaib naker:

“Pileuleuyan, pileuleuyan,

kuring digupay ku langit,

pileuleuyan, pileuleuyan,

kuring ditundung ku bumi ….”

carpon Tukang kembang

Tukang kembang

Utamana Inggit nu ngarasa leungiteun téh, kawantu pangdipikanyaahna. Geus dianggap incuna sorangan. Kabeneran ampir Saumur jeung rék sarimbag jeung incuna sorangan. Unggal di Aki mulang ke lemburna, balikna deui téh kudu baé aya oleh-oleh husus keur Inggit.

Terutama inggit yang merasa kehilangan itu, sangat disayang. Sudah dianggap cucunya sendiri. Kebetulan hampir seumuran dan mirip dengan cucunya sendiri. Setiap si Kakek pulang ke kampungnya, pulangnya lagi harus saja ada oleh-oleh khusus untuk Inggit

Saréréa. Saimah-imah. Pa Gumbira, apana inggit. Bu Gumbira, indungna. Nya kitu deui adi jeung lanceukna, Ikbal katut Jatnika, sarua ngarasa leungiteun. Ngan ku sabab raketna pisan jeung Inggit, manéhnamah leuwih-leuwih asa leungitanana téh.

Semuanya, serumah-rumah. Pak Gumbira, bapaknya inggit. Bu Gumbira ibunya inggit begitu juga dengan adik dan kakaknya, Ikbal dan Jatnika, sama merasa kehilangan. Namun karena dekatnya dengan Inggit, mereka lebih-lebih merasa kehilanga.

“Naha Si Aki téh teu aya baé?” ceuk Inggit ka mamahna, siga rék sahinghingeun ceurik.

“Kenapa Si Aki tak ada juga??” kata Inggit ke mamanya, seperti akan menangis.

“Nya éta mah. Mamah ogé meni asa beuheung sosonggeteun, sono hoyong pendak sareng Si Aki,” walerna.

“Ya itu. Mama juga tidak tahu, sudah kangen ingin bertemu dengan Si Aki,” jawabnya.

“Boa teu damang?” ceuk Jatnika.

“Takutnya sakit?” kata Jatinika.

“Panginten….,” saut Bu Gumbira deui.

“Mungkin…,” jawab bu Gumbira lagi.

“Euleuh, kumaha atuh Mah?” Inggit beuki ngarasa hariwang.

“Aduh, bagaimana Mah? Inggit terus merasa khawatir.

“Kumaha upami urang longok, sakantenan amengan ka Situ Panjalu?” Si Bungsu Ikbal usul.

“Bagaimana jika kita tengok, sekalian main ke Situ Panjalu?” Si bungsu Ikbal usul.

“Leres Pa,” Inggit jol satuju.

“Betul Pa,” Inggi langsung setuju.

Nu dimaksud Si Aki ku saréréa téh, tukang kembang langganan Bu Gumbira jeung Inggit. Tina sering balanja kembang ti Si Aki, laun-laun jadi asa jeung baraya. Mana komo sanggeus Si Aki Tukang Kembang, siga nu nyaaheun pisan ka Inggit. Malah pok deui-pok deui nyebutkeun, asa ka incu sorangan. Atuh beuki asa jeung baraya baé.

Yang dimaksud oleh Si Aki semuanya itu, Tukang kembang langganan Bu Gumbira dan Inggit. Karena sering belanja kembang dari Si Aki, lama kelamaan merasa seperti dengan saudara.

Ampir saban poé, rék dibeulian rék henteu, kudu baé ngahajakeun eureun. Basana téh hayang panggih jeung incu. Nya kitu deui Bu Gumbira, rék ngagaleuh rék henteu, kedah baé miwarang lirén. Puguh deui Inggit mah, sirikna teu ngahajakeun megat di buruan.

Hampir setiap hari, mau dibeli atau tidak, harus sengaja berhenti. Bilangnya ingin bertemu dengan cucu. Bebitu juga dengan Bu Gumbira, mau membeli mau tidak harus menyuruh berhenti. Apalagi Inggitm biasanya sengaja menunggu di halaman.

Biasana samulangna Si Aki ngrilingkeun dagangan. Da tara ka mana deui jalanna, boh inditna, boh balikna, pasti ngaliwat ka hareupeun imah Inggit.

Biasanya sepulangnnya Si Aki mengelilingkan dagangan. Tidak akan jauh jalannya, baik berangkatnya ataupun pulangnya, pasti lewak ke depan rumah Inggit.

Urang panjalu Si Aki téh. Ngaran aslina mah Abdul Manap. Ti keur ngora kénéh geus bubuara ka Bandung. Asalna tukang minyak tanah. Ditanggung maké salang jeung rancatan. Ka béh dieu ganti ngajual kembang.

Orang Panjalu Si Aki itu. Nama aslinya Abdul Manap. Semenjak muda sudah mengembara ke Bandung. Asalnya tukang minyak tanah. Ditanggung menggunakan salang dan rancatan. Ke sananya lagi gantian berjualan kembang.

Sabulan atawa dua bulan sakali sok mulang ka lemburna. Ku sabab geus teu asa jeung jiga téa, ku bu gumbira sering dibahanan oléh-oléh, bawaeun ka lemburna. Aya gula, kopi, sirop, kuéh kaléng, sakepeung pakéan urut keur babasah. Anu tara tara téh ngongkosan, lantaran keukeuh tara ditarima.

Sebulan atau dua bulan sekali suka pulang lagi ke kampungnya. Oleh karena itu, sudah tidak canggung lagi, oleh bu Gumbira sering diberi oleh-oleh, untuk dibawa ke kampungnnya. Ada gula, kopi, sirop, kueh kaleng, kadang kadang ada pakaian bekas untuk ganti. Yang tidak itu memberi ongkos, karena tetap tidak diterima.

Nya kitu deui Si Aki, unggal mulang ti lemburna, tara léngoh. Tampolanana ari keur usum panén mah, sok ngirim béas sagala. Tangtu baé lian ti oléh-oleh husus, keur incu kadeudeuh, Inggit téa. Biasana bungbuahan, manggu, sawo, pisitan, atawa kadongdong. Kumaha usum-usuman baé.

“Begitu juga dengan Si Aki, setiap pulang dari kampungnnya, pasti membawa oleh-oleh. Biasanya jika sedang musim panen, suka membawa beras segala. Tentu saja selain oleh-oleh khusus untuk cucu tersayang, Inggit saja. Biasanya buah-buahan, manggis, sawo, duku, atau kedondong. Bagaimana musim-musimnya saja.

Nu dimaksud oleh-oleh khusus keur inggit teh, sabenerna ukur babasan. Sabab dina prakna mah keur saréréa. Kawantu sakali ngirim téh pasti tara kurang ti sakarinjing gede.

Yang dimaksud oleh-oleh khusus untuk Inggit itu, sebenarnya hanya formalitas. Sebab pada praktiknya untuk semua. Biasanya sekali ngirim itu pasti tidak kurang dari sekeranjang besar.

Tapi geus dua bulan leuwih, ti saprak Si Aki bébéja rek ngalongok lemburna, tacan balik-balik deui. Tungtungna Pa Gumbira nyatujuan kana usul Si Bungsu Ikbal. Upama sabaulan deui Si Aki tetep ngampeleng, sakalian jalan-jalan, rék ngahajakeun dilongok. Kabeneran Si Aki mindeng nyaritakeun ngaran lemburna. Teu pati jauh ti kota kecamatan cenah.

Tapi sudah dua bulan lebih, dari semenjak Si Aki bilang ingin menjenguk kampungnya, belum balik-balik lagi. Akhirnya Pa Gumbira menyetyjui terhadap usulnya Si Bungsu Ikbal. Jikalau sebulan lagi Si Aki tetap tidak kembali, sekalian jalan jalan akan sengaja ditengok. Kebetulan Si Aki sering menceritakan nama kampungnya. Tidak jauh dari kota kecamatan.

“Enya upami sasih payun Si aki angger ngampleng, sakalian jalan-jalan, urang longok. Urang uah-uih baé. Ti dieu Ahad enjing-enjing, pasosonten mulih” sauh Pa Gumbira ka barudak.

“Iyah jika bulan depan Si Aki tetap tidak kembali, sekalian jalan-jalan, kita tengok. Bolak-balik saja. Dari sini minggu pagi-pagi, sore-sore pulang” kata Pak Gumbira ke anak-anak.

“Sakantenan ntobian mobil anyar deuih,” ceuk Jatnika.

“Sekalian mencoba mobil baru lagi,”

Nembe ngagaleuh mobil apan Pa Gumbira téh. Mobil tilas, sedan alit. Tapi najan tilas, henteu kolot-kolot teuing.

“Baru membeli mobil Pa Gumbira itu. Mobil bekan, sedan bekas. Namun walau bekas, tidak terlalu tua.

Naha atuh ari pitilupoéun deui kana jung, kira-kira jam hiji beurang , ujug-ujug reg aya mobil alus pisan, lirén payuneun Pa Gumbira. Harita di imah téh kakara aya Inggit jeung Ikbal, lian ti Bu Gumbira téh. Henteu kungsi lila kurunyung Jatnika. Rada jauh sakolana Jatnika mah. Sedengkeun Pa Gumbira, teu acan mulih ti kantorna. Biasana tabuh stengah lima, nembé dugi ka bumina.

Tiga hari sebelum keberangkatan, kira-kira jam saru siang, tiba-tiba berhenti sebuah mobil yang bagus, berhenti di Pa Gumbira. Aritnya di rumah itu baru ada Inggit dan Ikbal, selain dari Bu Gubira. Tak lama kemudian datanglah Jatnika. Agak jauh sekolahnya Jatnika itu. Sedangkan Pa Gumbira belum pulang dari kantornya. Biasanya setengah lima , baru sampai ke rumahnya.

Sangkaan saréréa, paling-paling bade naroskeun alamat. Pédah kabeneran keur araya di tepas. Da teu terang téa, saha jeung urang mana éta jalmi téh. Ngan pasti lain jelema sagawayah. Tina dangdanan jeung mobilna ogé katara jalma aya.

Dugaan semuanya, paling-paling juga akan menanyakan alamat. Karena kebetulan sedang ada di teras rumah. Karena tidak tahu, siapa dan orang mana orang itu. Namun pasti bukan orang sembarangan. Dari dandanan dan mobilnya saja kelihatan orang berada.

Ari pék si tatamu téh, ngahaja niat nepangan Pa Gumbira sakulawarga. Waktos diuningakeun Pa Gumbira masih kénéh aya di kantor, walerna téh, “Sawios bade diantosan baé,” cenah.

Ternyata si tamu, sengaja berniat bertemu Pa Gumbira sekeluarga. Waktu diberi tahu Pa Gumbira masih ada di kantor, jawabnya itu, “Biarkan saja nanti ditunggu saja katanya.

Atuh Bu Gumbita téh kacida bingungna. Margi kana waktosna Pa Gumbira mulih téh masih kénéh lami. Beui bingung lantara si tamu ngaléos, ninggalkeun pribumi. Tuluy rurusuhan muru mobil sarta mukakeun panto Beulah tukang.

Bu Gumbira sangatlah bingung. Karena waktunya Pa Gumbira pulang itu masih lama. Semakin bingung karena si tamu pergi, meninggalkan tuan rumah. Lalu buru-buru menuju ke mobil dan membuka pintu sebelah belakang.

Asalna saréréa bingung campur atoh, barang ti jero mobil kaluar Si Aki. Bajuna henteu saperti keur dagang kembang. Ayeunamah beresih jeung alus. Nya kitu deuih kulitna. Henteu hideung saperti saméméhna.

Pada mulanya semuanya bingung bercampur gembira, ketika dari dalam mobil keluas Si Aki. Bajunya tidak seperti sedang dagang kembang. Sekarang beresih dan bagus. Begitu juga dengan kulitnya. Tidak seperti sebelumnya.

“Aki…..!” cenah” Inggit lumpat muru Si Aki. Gabrug duanana silih rangkul.

“Aki….! katanya” Inggit berlari menuju Si Kakek. Keduanya saling merangkul.

Geus karuhan kitu mah, Pa Gumbira teras diwartosan aya Si Aki.

Sudah tentu begitu, Pa Gumbira lalu diberitahu ada Si Aki.

Saha saleresna si tatamu téh? Singhoréng putra Si Aki pangageungna. Anu majar salah saurang putra Si Aki pangageungna. Anu majar salahsaurang putrana, ampir sarimbag jeung Inggit. Ari pangna ngahaja nepangan, lian ti ngawartosan Si Aki téh moal dagang kembang deui. Margi diwagel ku putra-putrana.

Siapa sebenarnya tamu tersebut? Ternyata anaknya Si Kakek yang paling besar. Yang katanya salah seorang anak Si Aki paling besar. Yang katanya salah seorang anaknya, hampir sewajah dengan Iggit. Sebab sengaja bertemu, selain dari memberitahu Si Aki tidak dagang lagi. Karena dilarang oleh anak-anaknya.

Tapi sakali-kalieun, pasti nganjang ka bumi Pa Gumbira. Utamana upama sono ka Inggit. Nya kitu deuih, Pa Gumbira sakulawargi, kedah sering ngalongok Si Aki di lembur.

Tapi sekali-kali, pasti berkunjung ke rumah Pa Gumbira. Utamanya jika kangen kepada Inggit. Begitu juga dengan Pa Gumbira sekeluarga, harus sering menengok Si Aki di kampung.

Teu sangka nya, Si Aki tukang nyunyurung roda kembang téh, putra-putrana maraju. Di antarana nu natamu ka Pa Gumbira. Kagungan pabrik beusi sagala, cenah, anjeunna téh.

Tidak sangka yah, Si Aki tukang mendorong roda kembang itu, anak-anaknya maju. Di antaranya yang bertamu ke Pak Gumbira. Punya pabrik besi segala katanya, dia itu.